Public Safety in Indonesia - Pedestrian Use

17.10 Winda Scorfi 0 Comments

Umm..as usual - I write based on instruction on my head - and so here I am, writing about Public Safety a.k.a Keselamatan Publik, hell yeah! My eyes wink on Jakarta of course.
Sebenarnya dapet inspirasi dari iklan yang lewat di B Channel "Bicara tentang Jakarta" saya pikir semua komentar yang mereka lontarkan - 100% Fact! Saya juga sudah mengalaminya sendiri - sebagai pelaku maupun korban. Salah satunya - pedestrian use. Guess why does pedestrian made? Buat pejalan kaki tentunya - bukan motor apalagi bulldozer. Look at this picture below for more understanding.
I was wondering - why this biker not moving forward (foto: darmansjah)
sumber foto: http://edorusyanto.wordpress.com/

menurut postingan Mas Darmansjah kondisi pedestrian di Kota Jakarta jauh lebih parah dari Surabaya. Well, gimana gak parah klo penunggangnya motor dan mobil - #WTF - kalau sudah begini para pejalan kaki  mau dilewatkan mana? Niat awal pedestrian dibuat untuk keamanan dan kenyamanan pejalan kaki, sebagaimana saya kutip dari wikipedia berikut ini:

Trotoar adalah jalur pejalan kaki yang umumnya sejajar dengan jalan dan lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan untuk menjamin keamanan pejalan kaki yang bersangkutan.
Para pejalan kaki berada pada posisi yang lemah jika mereka bercampur dengan kendaraan, maka mereka akan memperlambat arus lalu lintas. Oleh karena itu, salah satu tujuan utama dari manajemen lalu lintas adalah berusaha untuk memisahkan pejalan kaki dari arus kendaraan bermotor, tanpa menimbulkan gangguan-gangguan yang besar terhadap aksesibilitas dengan pembangunan trotoar.
Perlu tidaknya trotoar dapat diidentifikasikan oleh volume para pejalan kaki yang berjalan dijalan, tingkat kecelakaan antara kendaraan dengan pejalan kaki dan pengaduan/permintaan masyarakat.
See? Udah jelas kan disini - apa fungsi dan tujuan trotoar/ pedestrian dibuat - untuk para pejalan kaki yang posisinya lemah di jalan (resiko tertabrak dan bisa mengganggu kelancaran kalau seandainya meraka bertebaran di jalan utama). Sekarang bagaimana seorang pejalan kaki bisa mendapatkan keamanan kalau jatah jalan mereka di jarah juga oleh pengendara motor dan mobil (baik angkutan umum ataupun pribadi).

Where you finger will point? Who's to be blame?

So sick talking about who's fault, who's to be blame - because we will need much finger.

Para pengendara kendaraan bermotor itu (red: motor dan mobil) mungkin terpaksa menjarah karena : terburu waktu, malas antri, sesak nafas karena monyongnya tepat didepan knalpot bajaj, dan sejuta alasan lainnya. Jadi kalau coba diruntut - bisa jadi seperti ini: banyaknya penduduk sama dengan banyaknya jumlah kendaraan - kondisi ini tidak sebanding dengan volume jalan - dikarenakan kapasitas kendaraan yang terlalu banyak di jalan raya (over capacity) - para pengendara yang tidak kebagian tempat di jalan terpaksa mengambil celah disisi kiri dan kanan yang notabene adalah trotoar (jalan milik pejalan kaki atau non-pengendara bermotor). Akibatnya apa? Trotoar rusak parah - sehingga harus ada biaya ektra yang dikeluarkan pemerintah, kedua keamanan pejalan kaki - mendekati zero level sama artinya dengan no safety.

Ini masih soalan trotoar hanya sebagian kecil dari wajah Ibukota saat ini.
Next posting: Accident

0 komentar: